Mengenal Masjid Al-Ibrahimi Hebron yang Dicaplok Israel

Masjid Al Ibrahimi di Hebron merupakan salah satu bangunan suci tertua di dunia yang hingga kini masih digunakan secara berkelanjutan. (Foto: http://www.procon.org)

Masjid Al Ibrahimi Hebron diyakini menjadi tempat peristirahatan Nabi Ibrahim.

HEBRONMasjid Al Ibrahimi di Hebron merupakan salah satu bangunan suci tertua di dunia yang hingga kini masih digunakan secara berkelanjutan. Dipercaya di dalamnya terdapat makam Nabi Ibrahim Alaihissalam, istrinya Sarah, putra mereka Ishak, cucunya Yakub, serta istri-istri mereka, Ribka dan Lea. Kesucian situs ini turut berkontribusi terhadap pelestarian budaya Hebron.

Hal ini membuat Kota Hebron dikenal di seluruh dunia. Namanya bahkan sampai ke berbagai wilayah lain, termasuk di Inggris Raya dan Amerika Serikat (AS), dikutip dari laman Hebron Rehabilitation Committee (hebronrc.ps), Rabu (17/6/2026).

Namun, belum dapat dipastikan kapan tepatnya situs tersebut mulai dianggap suci oleh masyarakat. Buku-buku sejarah tidak banyak membahas riwayatnya sebelum era Romawi. Tidak diketahui kapan situs pemakaman di Masjid Al Ibrahimi ditetapkan dan kapan kesuciannya mulai dikenal luas.

Status sucinya diperkirakan telah ada sejak beberapa abad sebelum Masehi (SM). Namun, terdapat rentang sejarah yang sangat panjang antara masa hidup Nabi Ibrahim di bumi pada abad ke-17 SM dan era Romawi, yakni lebih dari seribu tahun. Tidak ada catatan pasti mengenai apa yang terjadi selama periode tersebut, terutama karena reruntuhan yang ada tidak memberikan petunjuk mengenai peristiwa yang pernah berlangsung di lokasi itu.

BACA JugaPasukan Pendudukan Israel Menutup Masjid Ibrahimi di Hebron

Struktur yang ada saat ini terdiri atas sebuah bangunan besar yang mengelilingi gua dengan ruang ganda. Bahkan, asal usul bangunan tersebut masih menyisakan sejumlah keraguan. Sejarawan Romawi Josephus (sekitar 37–100 M) mencatat berbagai struktur yang dibangun Raja Herodes (37–4 SM). Namun, situs ini tidak tercantum dalam daftar maupun catatan yang menghubungkan bangunan tersebut dengan Herodes.

Meski demikian, arsitektur bangunan itu tidak diragukan lagi bergaya Herodes. Struktur ini menampilkan penggunaan blok-blok batu besar yang panjangnya dapat mencapai lebih dari beberapa meter (7,5 meter untuk yang terpanjang), dengan tinggi lebih dari satu meter (1,4 meter untuk yang tertinggi). Sejumlah arkeolog, seperti Conder, Betzinger, Robinson, Warren, dan Heidet, bahkan berpendapat bahwa bangunan tersebut dibangun jauh sebelum masa pemerintahan Herodes.

Perlu dicatat, terlepas dari skala dan usia bangunan yang luar biasa, yang telah melampaui 2.000 tahun, serta banyaknya gempa bumi dahsyat yang pernah melanda wilayah tersebut, bangunan ini tidak kehilangan stabilitasnya dan tidak pernah mengalami kerusakan yang memerlukan restorasi.

BACA JugaTerbesar dalam Sejarah, Bantuan AS untuk Genosida di Gaza Capai Rp 280 T
Pasukan Israel berjaga-jaga di luar Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat. (WAFA)

Batu-batunya dipahat dengan halus, dengan margin selebar 10 sentimeter di sekeliling masing-masing batu. Bangunan aslinya berupa struktur persegi panjang tanpa atap setinggi 16 meter yang menghadap ke tenggara, dengan ukuran 59,28 meter x 33,97 meter.

Dindingnya setebal 2,68 meter. Setiap dinding terdiri atas dua bagian. Bagian bawah terbuat dari blok batu besar dan tinggi biasa, sedangkan bagian atas memiliki total 48 kolom persegi yang menonjol, yakni 16 pada setiap dinding panjang dan delapan pada setiap dinding pendek. Di antara kolom-kolom tersebut terdapat area cekung yang lebih kecil di dekat sudut bangunan.

BACA JugaMasjid Al-Ikhlas, Kisah Impian yang Tertunda hingga Jadi Ikon Religius Konawe Selatan

Pilar-pilar ini meningkatkan kekuatan struktur sekaligus menambah nilai estetika yang kontras dengan keseragaman permukaan datar pada bagian bawah. Di atas setiap dinding, beberapa lapisan plester tanah liat ditambahkan pada masa berikutnya, yang diperkirakan terjadi pada era Ottoman. Bagian dinding ini dikupas selama upaya renovasi terakhir dan tepi batunya kemudian dilapisi.

Belakangan, Masjid Al Ibrahimi kembali menjadi sorotan setelah pemerintah Israel mengambil alih kewenangan perencanaan dan pembangunan di kawasan situs suci tersebut dari otoritas Palestina. Langkah yang diumumkan pada Juni 2026 itu menuai penolakan dari pihak Palestina yang menilai kebijakan tersebut sebagai upaya memperkuat kontrol Israel atas kawasan Hebron dan mengubah status yang telah diatur dalam Perjanjian Hebron 1997. Masjid Al Ibrahimi yang juga dikenal sebagai Cave of the Patriarchs merupakan situs suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen.

BACA JugaSmotrich Cabut Kewenangan Kota Al-Khalil, Palestina: Israel Langgar Perjanjian Hebron 1997

Sumber: REPUBLIKA

Post a Comment

Anda boleh berkomentar sesuai dengan tema artikel di atas. Lain dari itu, komentar Anda tidak akan dipublikasikan. Terimakasih.

أحدث أقدم