Sunday, April 29, 2018

TERTIB PRAKTIK MEMANDIKAN MAYIT

Oleh: #ustManatahan

Mempersiapkan Alat/Bahan Yang Diperlukan Seperti:

(Orang yang memandikan mayit boleh 3 (tiga) orang atau lebih)
* Sarung tangan (bagi yang memandaikan mayit)
* Kain penutup (untuk menutupi) aurat mayit
* 3 (tiga) jenis air;

a. Air biasa                              }
b. Air sabun                             }  Secukupnya
c. Air kafur (barus)      }

(Setelah Mayit Tergelatak)

Diawali dengan Niat (atau dengan membaca): “Nawaitulgusla Li-Haadza-Al-Mayyiti (Wa-almaghfirati) Lillaahi Ta’aalaa”
Dimulai dengan bacaan BASMALAH

·         1. Buka pakaian mayit dan tutup aurat mayit dengan kain yang telah disediakan

·        2.  Cuci pergelangan tangan kiri dan kanan mayit serta jari –jarinya hingga bersih (dimuali dari tangan kanan mayit), memakai air jenis (a)

·         3. Cuci kemaluan dan dubur mayit, memakai air jenis (a) hingga bersih

·         4. Angkat pundak mayit (diusahakan oleh orang yang ada di sebelah kanan mayit) dibantu oleh orang yang berada di sebelah kiri mayit

·         5. Urut-urut (dengan perlahan) perut mayit (boleh mulai dari lambung) ke perut mayit hingga mengeluarkan (kotoran, jika ada) dari kedua lubang (kemaluan/dubur) mayit dan mencucinya hingga bersih dengan menggunakan air jenis (a)

·         6. MULAI MEWUDLUKAN MAYIT seperti sebagaimana wudlunya orang hidup. Hanya saja dalam dalam membasuh mulut (kumur-kumur), cukup kita membersihkan mulut (giginya) dengan menggunakan lap, dilanjutkan dengan membersihkan (mengelap) lubang hidungnya (boleh 3X). Lanjutkan hingga tuntas dan sempurna mewudlukannya.

·         Setelah selesai mewudlukannya, kemudian

·         7. Cuci dan bilas rambut mayat hingga sempurna dan bersih dengan air jenis (b) atau boleh menggunakan shampo

·         8. CUCI LENGAN SEBELAH KANAN MAYAT MULAI dari PUNDAK sampai UJUNG JARI-JARI TANGAN dan JARI-JARI KAKINYA Hingga SEMPURNA dengan menggunakan air jenis (b) dan GILIRKAN UNTUK MENCUCI BAGIAN BELAKANG (sebelah kanan mayit)

·         9. Lakukan untuk MENCUCI BAGIAN KIRI MAYIT seperti yang dilakukan pada poin no.8

·         10. Cuci ulang seluruh tubuh mayit secara menyeluruh dengan air jenis (c), seperti yang dilakukan pada poin no.7 hingg poin no.9

T e r  t i b

Petunjuk Singkat Cara Memandikan Mayit

TERTIB PRAKTIK MANDI JUNUB SESUAI SUNNAH

Oleh: #ustManatahan

Diawali dengan Niat (dengan membaca): “Nawaitul-Gusla Liraf’il-Hadasil-Akbari (Wa-almaghfirati) Lillaahi Ta’aalaa”

Dimulai dengan bacaan BASMALAH (boleh bersamaan dengan melakukan poin no.1)

1.      Cuci kedua pergelangan tangan hingga bersih
2.      Cuci kemaluan 3 X (hingga bersih)
3.      Cuci lengan sebelah kiri dengan tangan kanan, mulai dari atas lengan hingga sempurna (3X)
4.      Berwudlu, sebagaimana wudhu biasa
5.      Selat-selati seluruh rambut hingga terasa seolah memijatnya (3X)
6.      Basuh Kepala/rambut (3X)
7.      Basuh anggota badan sebelah kanan hingga kaki dan sempurna (3X) dilanjutkan dengan
8.      Basuh anggota badan sebelah kiri (seperti yang dilakukan pada poin no.7). Kemudian
9.      Basuh seluruh tubuh (boleh 3X atau lebih) hingga bersih dan boleh pula sambil menggunakan sabun mandi.
1.  T e r t i b

Petunjuk Singkat Cara Mandi Junub

Tuesday, April 17, 2018

BANDA ACEH – Besarnya partisipasi warga Aceh dalam pelayaran Kapal Kemanusiaan untuk Suriah tidak terlepas dari peran pemerintah setempat serta para ulama di Aceh. Ulama Aceh yang terhimpun dalam Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) mendukung penuh pengiriman 1.000 ton beras petani Aceh untuk pengungsi Suriah. Mereka turut mengajak masyarakat Aceh secara luas untuk bersama melanggengkan ikhtiar besar bangsa Indonesia ini.

Menurut Tgk. H. Faisal Ali selaku Wakil Ketua MPU Aceh, para ulama Aceh terus memberikan edukasi dan motivasi kepada masyarakat Aceh. Semua disampaikan dalam tausiyah-tausiyah mereka di momen pengajian dan kegiatan sosial lainnya. Hal ini agar masyarakat Aceh selalu menjaga ukhuwah Islamiyah mereka dengan mau peduli membantu saudaranya di Suriah yang tertimpa bencana kemanusiaan.

“Saya bangga dengan masyarakat Aceh karena setiap aksi kemanusiaan yang dilakukan ACT, mereka berbondong-bondong mau peduli membantu saudaranya di berbagai daerah dan negara. Ya, salah satunya kontribusi masyarakat Aceh dalam pengiriman 1000 ton beras untuk warga Suriah ini,” ujarnya, selepas konferensi pers Pelepasan Kapal Kemanusiaan Suriah (KKS) di Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, Ahad (15/4).   

Sebagai provinsi dengan penduduk mayoritas Muslim, pandangan dan pemikiran ulama acapkali dihormati oleh para penduduk Aceh. Pemikiran ulama banyak dijadikan kebijakan dan sumber hukum syariah yang diterapkan oleh masyarakat setempat.

Segala bentuk nasihat dan ajakan positif dari para ulama selalu disambut dan diterapkan oleh warga Aceh. Hal ini termasuk ajakan untuk mengumpulkan 1.000 ton beras untuk pengungsi Suriah yang masih dilanda krisis kemananusiaan. 

Tgk. H.Faisal Ali lantas menambahkan, kerja kemanusiaan yang masif ini patut diapresiasi. Proses pengumpulan beras dari para petani Aceh, Tablig Akbar di Masjid Baiturrahman Banda Aceh, hingga pelepasan KKS nanti menjadi satu rangkaian kepedulian besar bangsa Indonesia.

“Acara seperti ini sangat terpuji, apakah dalam konteks hubungan sesama umat manusia maupun dalam konteks hubungan antar negara. ACT mampu munculkan, memotivasi, dan memberi semangat masyarakat Aceh untuk peduli terhadap saudaranya nan jauh di sana. Hal tersebut sangat kami banggakan. Kami bersyukur kepada Allah, masih diberikan kesempatan untuk berbuat yang terbaik kepada sesama umat manusia,” tuturnya.

Pimpinan Pesantren Mahyail Ulum Al Aziziyah di Sibreh, Aceh Besar ini, berharap bantuan 1.000 ton beras dari warga Aceh dan Indonesia tersebut bisa sampai dan bisa dinikmati ke warga Suriah. Ia menegaskan bantuan ini bukan yang terakhir, namun akan terus dilakukan.

“Saya berharap ACT agar bisa terus melakukan aksi kemanusiaannya dan melebarkan kepeduliannya, ke wilayah-wilayah lainnya  yang  sangat membutuhkan,” imbuhnya.

Menurutnya, program KKS ini sesuatu yang luar biasa. Selain membantu warga Suriah, program tersebut juga membangun kembali komunikasi dengan Turki. Hal ini mengingat hubungan Turki dengan Aceh sejak dahulu dari zaman kerajaan hingga kini sangat baik. Orang Turki masih mengingat saudaranya yang ada di Aceh, begitu juga sebaliknya.

“Alhamdulillah, hubungan selama ini (Turki dengan Aceh) diikat kembali dengan aksi kemanusiaan yang dilakukan teman-teman ACT, melalui program  pengiriman 1000 ton beras untuk Suriah melalui Turki,” pungkasnya. [ACTnews]

Ulama Aceh Gencar Ajak Masyarakat Layarkan Kapal Kemanusiaan Suriah



Mencermati sikap Pemkab Sukabumi melalui Dinkes yang berani menanggung seluruh biaya pengobatan para pemimum miras oplosan di Palabuhanratu ‘karena kasihan’, maka dalam hal ini kami selaku penggiat dakwah sangat prihatin dan tak habis pikir.

Kenapa? Karena para 'pemabuk' itu oleh Dinkes diposisikan sebagai korban?

Sangat konyol..! Korban apa? Dinkes harus belajar membedakan musibah, bencana, dan perbuatan maksiat yang mengancam nyawa. Orang mau mati karena minum miras itu bukan musibah, tak perlu dibantu.

Ataukah Dinkes akan terus menggelontorkan dana untuk membantu pengobatan para pemabuk?

Kalau memang para pejabat Dinkes bersimpati kepada para penggemar alkohol, silakan bantu mereka dengan uang sendiri, jangan pakai uang negara karena ‘pemabuk’ adalah perusak negara.

Perbuatan maksiat peminum miras itu oleh Dinkes diperlakukan atau diposisikan sebagai korban dan dibantu layaknya korban kecelakaan atau bencana, barangkali sama saja Pemda, melalui Dinkes itu melegalkan perbuatan maksiat tersebut.

Jika demikian adanya, maka tidak menutup kemungkinan ke depan, pelaku lainpun akan berkata: “Mari kita meminum miras oplosan. Kalau keracunan, jangan takut, sabab biaya pengobatan ditanggung oleh Dinkes”.

Dalam Al-Quran, terkait tolong menolong Allah SWT telah menegaskan:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, berkata: “Apabila manusia saling tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan permusuhan, maka mereka sejatinya sedang saling membenci di antara mereka sendiri”. Majmu’ al-Fatawa (15/128).

Sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Muslim mengatakan:

وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 1017).

Hukum bagi pemabuk:

Berdasarkan Perda, orang marabok harus ditangkap, sebab termasuk orang yang menggunakan minuman beralkohol. Mereka telah melanggar perda tentang larangan minuman beralkohol.

Peraturan Daerah (Perda) no.7 thn 2015 tentang Larangan Minuman Beralkohol (minol) yang salah satu isi pasalnya memberi sanksi kepada setiap orang yang memproduksi, mengimpor, mengedarkan, menjual dan mengecerkan minuman beralkohol maka dikenakan sanksi, yakni kurungan penjara selama enam (6) bulan dan denda sebesar Rp 50 juta.

Hadits Rasulullah Saw: Orang yang minum khamar (atau minum-minuman yang lain yang sejenis dengn khamar wiski, ciu, dan lain-lain) kena hukuman jilid, baik ia sampai mabuk atau tidak, di jilid 40 kali. (dengan syarat orang islam yang baligh dan berakal serta mengerti haramnya khamar).

Meminum arak atau apa saja yang memabukkan, maka wajib dihukum had berupa 40 kali cambuk. Hukuman ini boleh ditambahsampai 80 kali cambuk dengan jalan di karenakan ta’zir.

حدثنا مسلم حدثناهشام حدثنا قتادة عن انس قال جلد النبي صلى الله عليه وسلم في الخمر بالجريد والنعال وجلد ابو بكر اربعين (اخرجه البخارى في كتاب الحدود باب الضرب بالجريد والنعال).

Artinya: Anas,  dia berkata: Nabi saw mencambuk dalam perkara khamar dengan pelapah kurma dan dengan sandal. Abu bakar mencambuk dalam perkara khamar sebanyak 40 kali. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, layakkah pemabuk, perusak Agama dan perusak Negara itu ditolong?

SHARE! Semoga jadi perhatian pagi pemerintah, khususnya bagi Pemda Kabupaten Sukabumi.

Haruskah Para Pemabuk Dibiayai Pemerintah

Saturday, March 3, 2018

ustManatahan - Doa termasuk ibadah yang paling agung. Doa bukan sekedar hanya kalimat-kalimat yang diucapkan secara lisan. Akan tetapi, terdapat beberapa syarat dan kondisi sehingga doa kita dikabulkan.

Sebab-Sebab Terkabulnya Doa

Pertama, mengikhlaskan doa tersebut untuk Allah Ta’ala, konsisten (istiqamah) dan menjauhi kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman,

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Maka berdoalah (sembahlah) Allah Ta’ala dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (QS. Ghaafir [40]: 14).

Oleh karena itu, tauhid (ikhlas) merupakan syarat terkabulnya doa tersebut. Karena tauhid akan mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala dan sebagai sarana (wasilah) dikabulkannya doa seorang hamba.

Kedua, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sepenuh hati, menghadirkan hatinya untuk benar-benar dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tidak berdoa dengan hati yang lalai dan berpaling, sehingga hanya menggerakkan lisannya saja, sedangkan hatinya berpaling memikirkan yang lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling” (HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493).

Ketiga, berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan nama dan sifat Allah Ta’ala, misalnya yaa Rahmaan, yaa Rahiim, yaa Allah, dan sebagainya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna. Maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya” (QS. [7] Al-A’raf : 180) .

Keempat, mencari waktu-waktu yang merupakan waktu istimewa terkabulnya doa. Yang dituntut dari seorang muslim adalah berdoa secara terus-menerus di waktu kapan pun. Akan tetapi, seorang muslim juga hendaknya memperhatikan waktu-waktu khusus yang lebih besar kemungkinan untuk dikabulkan. Misalnya, ketika bersujud, atau di akhir malam, atau di bulan Ramadhan, lebih khusus lagi di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ini adalah waktu-waktu istimewa, sehingga hendaknya kita lebih banyak berdoa di waktu-waktu tersebut dibandingkan di waktu lainnya.

Penghalang Terkabulnya Doa

Kita juga harus menghindari penghalang-penghalang doa kita sehingga tidak dikabulkan. Beberapa penghalang terkabulnya doa antara lain:

Pertama, hati yang lalai dan berpaling ketika berdoa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana telah dijelaskan pada poin sebelumnya.

Kedua, dan merupakan penghalang terbesar terkabulnya doa adalah memakan harta atau barang haram. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya menjadi kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.’ Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do’anya” (HR. Muslim no. 1015).

Seorang muslim harus menjauhi makanan haram karena merupakan salah satu penghalang terkabulnya doa dan menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Terkadang, kecintaan seseorang terhadap harta mendorongnya untuk memperoleh harta tersebut dari cara yang haram, seperti melakukan penipuan, memakan harta riba, atau harta suap, dan cara-cara lainnya yang diharamkan oleh syariat. Demikian pula harus menjauhi memakan yang diharamkan, seperti babi atau khamr. Wallahu a’lam.

Sebab-sebab Terhalang dan Terkabulnya Doa

Wednesday, December 27, 2017

Pengertian RIBA

Riba menurut bahasa bermakna ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun menurut istilah tekhnis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.

Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam.

Mengenai hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala  mengingatkan dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (Q.S. An-Nisa [4]: 29).

Dalam kaitannya dengan pengertian Al-bathil dalam ayat tersebut, Ibnu Al- Arabi al-Maliki dalam kitabnya Ahkam Al Qur’an menjelaskan:

والربا في اللغة هو الزيادة , والمراد به في الآية كل زيادة لم يقابلها عوض
Artinya: “Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam ayat ini quran ini yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah”.

Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil, seperti transaksi jual beli, gadai, sewa, atau bagi hasil proyek.

Dalam transaksi sewa, si penyewa membayar upah sewa  karena adanya manfaat sewa yang dinikmati, termasuk menurunnya nilai ekonomis suatu barang karena penggunaan si penyewa. Mobil misalnya, sesudah dipakai  maka nilai ekonomisnya pasti menurun jika dibandingkan sebelumnya.

Dalam hal jual beli, si pembeli membayar harga atas imbalan barang yang diterimanya. Demikian pula dalam proyek bagi hasil, para peserta perkongsian berhak mendapat keuntungan karena di samping menyertakan modal juga turut serta menanggung kemungkinan resiko  kerugian yang bisa saja muncul setiap saat.

Dalam transaksi simpan pinjam dana, secara konvensional, si pemberi pinjaman mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang diterima si peminjam, kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan selama proses peminjaman tersebut. Yang tidak adil di sini adalah si peminjam diwajibkan untuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak, dan pasti untung dalam setiap penggunaan kesempatan tersebut.

Demikian pula dana itu tidak akan berkembang dengan sendirinya hanya dengan faktor waktu semata tanpa ada faktor orang yang menjalankan dan mengusahakannya. Bahkan, ketika orang tersebut mengusahakan bisa saja untung dan juga rugi.

Pengertian senada disampaikan oleh jumhur ulama sepanjang sejarah Islam dari berbagai madzhab fiqhiyyah. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, Badr ad-Din al Ayni, pengarang Umdatul Qari Syarah Shahih al Bukhari :

الأصل فيه (الربا) الزيادةوهو في الشرع الزيادة على أصل مال من غير عقد تبايع
Artinya: “Prinsip utama dalam riba adalah penambahan. Menurut Syariah, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.

Kedua, Imam Syarakhsi dari Madzhab Hanafi:

الربا هو الفضل الخالي عن العوض المشروط في البيع
Artinya: “Riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya ‘iwadh (atau padanan) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut”.

Ketiga, Raghib al-Ashfahani:

هو الزيادة على رأس المال (المفردات في غريب القرآن)
Artinya: “Riba adalah penambahan atas harta pokok”.

Keempat, Qatadah:

ان الربا الجاهلية أن يبيع الرجل البيع الى أجل مسمى فإذا حل الآجل ولم يكن عند صاحبه قضاء زاد وأخر عنه
Artinya: “Riba Jahiliyah adalah seseorangh yang menjual barangnya secara tempo hingga waktu tertentu. Apabila telah datang saat pembayaran dan si pembeli tidak mampu membayar, ia memberikan bayaran tambahan atas penangguhan”.

Kelima, Zaid Bin Aslam:

إنما كان ربا الجاهلية في التضعيف وفي السن يكون للرجل فضل دين فيأتيه إذا حل الأجل فيقول تقضينى أو تزيدني
Artinya: “Yang dimaksud dengan riba Jahiliyah yang berimplikasi pelipatgandaan sejalan dengan waktu adalah seorang yang memiliki piutang atas mitranya, pada saat jatuh tempo, ia berkata, “Bayar sekarang atau tambah”.

Dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits tentang Dosa Riba

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Rabb-nya, lalu ia berhenti, maka apa yang telah diperoleh dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka KEKAL di dalamnya.” ( QS. Al-Baqarah:275)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa-sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah PERANG dari ALLAH dan RASUL-NYA…”(QS.Al-Baqarah:278-279)

“Riba itu mempunyai 73 pintu, yang paling ringan adalah seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya. Dan riba yang paling besar adalah merusak kehormatan seorang muslim.” (HR. Ibnu Majah, al-Hakim)

“Satu dirham hasil riba yang dimakan oleh seseorang sedangkan ia mengetahuinya, itu lebih berat (dosanya) daripada 36 kali berzina.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani)

“Rasulullah Saw melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberi makan riba (yakni: orang yang meminjam/utang dengan sistem riba), pencatat (transaksi) riba, dan saksi atas transaksi tersebut. Dan beliau bersabda, ‘Dosa mereka adalah sama.’” (HR. Muslim)


Diambil dari berbagai Sumber

Anda Butuh Dana ? Satu Jam Cair, Jaminan Siksa Neraka

Saudaraku...! Sebelum menegakkan sholat, baca dulu artikel dibawah ini.., semoga manfaat..

Banyak sekali orang yang tegesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah disaat shalat.. tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya.
Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, ALLAH menjawab setiap ucapan kita.

Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman:

"Aku membagi al-Fatihah menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku."

■ Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya

■ Ketika Kita mengucapkan "AlhamdulillahiRabbil 'alamin".
Allah menjawab: "Hamba-Ku telah memuji-Ku."

■ Ketika kita mengucapkan "Ar-Rahmanir-Rahim".

Allah menjawab: "Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku."

■ Ketika kita mengucapkan "Maliki yaumiddin".

Allah menjawab: "Hamba-Ku memuja-Ku."
■ Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”.

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan Hamba-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzinaan’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.”

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

■ Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat.

Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.

■ Selanjutnya kita ucapkan "Aamiin" dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.

■ Barangsiapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Saudaraku, jika artikel ini dianggap bermanfaat silahkan bagikan, sampaikan walau satu ayat.

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; "Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada." (HR. Muslim).


SHARE...!  bermanfaat
#ustManatahan

Jangan Tergesa-gesa Ketika Membaca al-Fatihah

Salah satu yang dibenci oleh Allah adalah aktif menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya (hoax). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Mughirah bin Syu’bah R’A, Rasulullah Saw bersabda:

“Innaa-Allaaha kariha lakum tsalaatsan qiila waqaala, wa katsratassu-aali wa-idhaa’atal-maali”
Sesungguhnya Allah membenci 3 hal untuk kalian; [1] berkata-kata menyebarkan kabar burung, [2] banyak masalah (bertanya), [3] menyia-nyiakan harta. (HR. Bukhari & Muslim 4582).

Terlebih berita itu bisa membuat geger di masyarakat. Dan Allah mencela orang yang suka menyebarkan berita (tanpa fakta) yang jelas yang akan membuat masyarakat ribut. Terhadap pembuat onar itu Allah menyebut mereka sebagai al-murjifuun (manusia pembuat onar).

Ketika Nabi Saw berada di Madinah, beberapa orang tukang penyiar berita terkadang membuat geger masyarakat, terutama berita yang terkait keluarga Nabi. Allah mengancam, jika mereka tidak menghentikan kebiasaan itu, maka mereka akan diusir dari Madinah.

Firman-Nya;
“Jika orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (QS. Al-Ahzab: 60).

Sehingga sebelum menyebarkan, pastikan berita anda benar. Hentikan kebiasaan buruk mudah menyebarkan berita hoax. Tanamkan dalam diri bahwa menyebarkan berita, bukanlah merupakan prestasi. Prestasi itu adalah menyebarkan berita sesuai fakta serta menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Bagimana jika kita tidak sengaja menyiarkan berita, yang padahal setelah diingatkan oleh orang lain lalu kita tahu bahwa berita tersebut adalah dusta?

Pertama, orang yang melakukan kesalahan tanpa disengaja, maka tidak ada dosa bagnya.

 Allahh berfirman;
“Tidak ada dosa bagimu terhadap kesalahan yang kalian lakukan tanpa sengaja, tetapi (yang ada dosanya) ialah apa yang disengaja oleh hatimu.” (QS. Al-Ahzab: 5).

Hanya saja jika berita itu merugikan orang lain, maka harus bertanggung jawab atas segala kerugian yang diakibatkan oleh berita hoaxnya itu.

Saat Nabi Dawud menjadi penguasa, ada sebuah kasus, dimana hewan ternak milik si A telah masuk ke lahan si B dan merusak tanamannya. Akhirnya mereka meminta keputusan Nabi Dawud As, lalu beliau memutuskan bahwa hewan si A harus diserahkan kepada si B, sebagai ganti rugi dari tanaman yang telah dirusaknya.

Sementara, Nabi Sulaiman memiliki pemahaman berbeda. Beliau memutuskan agar hewan si A diserahkan ke si B untuk diperah susunya sampai menutupi nilai kerugian dari tanaman yang telah rusak itu.

Dan Allah SWT memuji keputusan Sulaiman, dengan firmannya;
“(dan ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu telah dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman menhenai hukum (yang lebih tepat).” (QS. al-Anbiya: 78-79).

Kedua, ketika berita tersebut sudah tersebar di forum, segera berikan penjelasan bahwa berita itu adalah dusta, agar Anda tersepas dari tanggung jawab.

Bagi mereka yang pernah menyebarkan kesesatan, kemudian bertaubat, maka dia berkewajiban untuk menjelaskan kembali kepada masyarakat tentang kesesatan yang pernah mereka sebarkan.

Firman Allah;
“Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan, serta menerangkan (kebenaran), maka bagi mereka itulah Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Menerima taubat, lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 160).

SHARE..!  jika sekiranya ini BERMANFAAT buat aaudara-saudara di sekitar Anda

Allaahu a’lam.

Oleh: #ustManatahan

Cara Bertaubat Bagi Orang yang Suka Menyebarkan Berita Hoak

close

Ikuti Kami

Terkini

Petunjuk Singkat Cara Memandikan Mayit

TERTIB PRAKTIK MEMANDIKAN MAYIT Oleh: #ustManatahan Mempersiapkan Alat/Bahan Yang Diperlukan Seperti: (Orang yang memandikan ...

Khazanah Islam

Total Pageviews